PERPISAHAN YANG DIRAYAKAN

Aku telah membeli keranjang yang menumpukkan kenangan

atau api yang kunyalakan membakar habis harapan sebelum beterbangan

Sebentar lagi aku dan kau dan kisah kita telah pensiun tanpa penghormatan

dan museum apa saja menolak nama kita

Kubiarkan puisi meronta di kertas-kertas abadi

Sebelum hati terkoyak oleh luka yang didiamkan berhari-hari

Takkan kubiarkan dendam muncul di permukaan,

atau meng-iya-kan marah yang bumi tolakkan

Kita telah berjanji bertemankan dewasa

Ulur tangan dan menerima lapang saja

Tak ada yang berubah selain daripada pulangku tak lagi searah

atau rindumu sampai di beranda rumah lain

Kita masih sama,

Aku dan kau dan perpisahan yang dirayakan.

Polewali Mandar, 2019

Awan

Awan;
Mengetuk daun jendela
Membias dan terbiaskan letupan angin
Hitam atau putih atau kelabu atau entahlah
Terus bergerak; beranjak

Awan;
Dan kau tak pernah sama
Ia berubah, berbeda dan kau tidak

Awan;
Melangkah pelan dan petang tak lagi sama-tak kukenali
Atau hujan melempar dan terdampar di ufuk matamu
Rintik syahdu dan menyentuh inti wajahmu; aku cemburu

Kini gelap dan aku resah
Awan indah atau kau telah abadi
Esok, haruskah aku memilih awan lagi untukmu?.

Polewali Mandar, Februari 2019

Menantikan Perjalanan

Pada titian
Sudah redup tempiaskan
Reyot jalan lupakan
Sepi pula tak risaukan
Aku mencoba,
menunggu dan itu saja

Seonggok tanya tumpah
Pada jalan melengkung hibahkan
Tegak berdiri aku bayangkan
Kau masih,
atau lupa jalan pulang

Ada aku
Ada jalan melengkung
Ada kau,
dan harapan temu.

Polewali Mandar, Februari 2019

Menolak Perbedaan

Aku bilang tak punya alasan tentang apa saja yang bernama perasaan. Bagiku tanpa hak punya adalah cinta yang galat.

Kau datang dan menolak semampu bumi tandus tak berhujan. Bagimu cinta bisa berbentuk apa saja. Asal kau tahu dengan siapa kau berbagi peran.

Aku bilang tak punya waktu untuk menebak. Kau baik atau hanya garah sama saja. Cerita klasik yang mengubah naskah pelakon.

Kau berbicara seperti sutradara atau sekecilnya ketua kelas. Merencanakan sesuka hati dan memerintah apa saja-seperti hatiku.

Kita begitu berbeda. Bagimu hujan adalah memulangkan rindu. Bagiku hujan adalah langit yang menuntut dikenang dalam segala hal, bahkan jika ia hanya mendung pekat.

Kesemua tentangmu adalah mimpi-mimpi yang kau peluk saat langit menutup jendela. Dan memastikan bahwa esok adalah wujud nyata.
Dan aku adalah manusia yang menganggap mimpi hanya menambah berat kepala dan harapan menjadi dewasa.

Sudah kubilang. Tak ada yang mempertemukan kita kecuali kemungkinan dan tangan Tuhan.

Gowa, 2018

Setelah Ketiadaanku

Aku akan duduk di kursi senjamu. Mendengarkan rentetan sajak dari ubun-ubunmu, lebur bersama rintik rona pipimu. Lalu aku akan bertanya, adakah sajak yang kau andai lalu aku tak paham itu aku?

Aku akan merapikan kemejamu. Melelapkan baret-baret lusuh itu. Lalu kurekatkan mustami di kancing bagian tengahnya. Agar aku paham, apakah disela pembicaraan aku kau lakonkan di labirin hatimu? Itu menyuburkan mawarmu ataukah mawarku menusuk sukmamu?

Aku mencarimu di pencarianku

Dipencarianku setelah ketiadaanku

Ketiadaanku oleh bisu nyenyakmu

Aku tak menemukan jawabannya.

Blackout

Tak ada hingar bingar para nokturnal
Tersungkur membisu di sudut ruang
Sedikit risau terjaga sepanjang malam
Listrik padam..

Kawula muda merintih kelaparan
Anak kos resah kepanasan
Baru saja nikmat cahaya dicabut
Gelaplah seluruh nuansa berkabut

Maki-memaki
Celaan bergelayut sepanjang malam
Menafikan juang para pekerja PLN
Menghinakan peluh yang tak menuai hasil, listrik masih padam…

Manusia malam ini…
Sedikit pongah; lupa bersyukur
Tahu mengkritik; lupa berterimakasih
Terlalu banyak orasi; tak tahu berkontribusi

Untunglah listrik padam..
Peringatan waktu, kuburan menanti
Lebih pekat; lebih gelap
Siapa kan peduli kau di sana?
Merintih dengan dosa, pertanggungjawabkan

Dan malam ini..
Tuhan beri kesempatan insaf, luasnya maaf
Langitkan syukur, lenyapkan kufur
Betapa nikmat dari-Nya adalah keniscayaan
Tersadar, dan tuhan mengembang senyum.

Mulyati Azis
Makassar, 17 November 2018

Catatan Kepergian

Dan aku…
Baru saja mengeja harapan
Menampikkan ragu yang bertandang
Menepikan rasa ketidakpercayaan

Lalu semua berakhir ditepian derita
Kau pergi mengalun sendu
Menggeletarkan batin yang tak menduga
Menciptakan benci yang tak mereda

Kian hadirmu harapku pelipur,
Malah membuatku semakin berkabung

Sudahlah,
Biarlah lukismu berserak dalam ingatan kelam
Biarlah tentangmu berkisah duka yang mengiris hati
Biarlah kau terkenang dalam catatan kepergian yang memilukan
Dan biarlah,
Aku menjadi penggiat luka atas harapan yang kau hancurkan.

Mulyati Azis
Gowa, 6 November 2018